Malamku

Aku telah berkawan dengan malam.

Dia dengar semua racauan
yang kadang kubisikkan dalam geram.

Dia lihat semua renungan
yang kadang kukaburkan lewat temaram.

Dan dia tampung semua perasaan
yang kadang kubiarkan mati tenggelam.

Aku telah berkawan dengan malam.

Aku tak takut lagi, aku tak takut hilang

bersama dinginnya penyesalan.

Iklan
Malamku

Bekas Yang Muncul dan Menghilang di Teras Rumah

Malam itu, seorang pria duduk di teras rumahnya yang agak kotor. Cipratan air hujan dan pasir-pasir basah masih terlihat membekas di sana-sini. Setelah puas menunduk di hadapan gawainya, pria yang sedang melawan bosan itu mulai menyulut rokok, menghisapnya dalam-dalam, dan menghembuskan asapnya bersamaan dengan helaan nafasnya yang berat. Sambil terus merokok, dia membebaskan pandangannya ke segala arah.

Di depan rumah, ia melihat beberapa anak berseragam putih biru yang sangat dikenalnya. Mereka sedang mengobrol selagi asik mengunyah jajanan yang dibeli dari kantin. Topik utama obrolan itu adalah ulangan matematika yang baru saja mereka kerjakan. Mereka ingin tahu jawaban milik teman yang paling pintar, dan kemudian saling mencocokkan jawaban satu sama lain. Melihat hal itu, si pria tertawa, berpikir bahwa apa pentingnya melakukan hal tersebut? Bagaimanapun juga ulangan itu sudah lewat bukan?

Setelah puas tertawa, pria itu menyulut sebatang rokok lagi, entah sudah yang keberapa untuk hari itu. Lalu, ia memandang halaman di samping rumah. Ternyata ia masih melihat anak-anak tadi di sana, tetapi mereka sudah bertambah tinggi dan berpakaian serba hitam putih. Anak-anak itu kemudian saling bertanya satu sama lain, “Apa tujuanmu setelah ini?” Satu per satu menjawab pertanyaan tersebut, tetapi kali itu mereka tak saling mencocokkannya. Mereka yakin dengan jawabannya masing-masing. Mereka juga terlihat gembira, walaupun mungkin sebenarnya tahu bahwa setelah itu mereka akan berpisah.

Bersamaan dengan itu, pandangan si pria mulai kabur. Anak-anak itu mulai menghilang secara perlahan. Perasaan bosan pria itu juga telah hilang, tergantikan oleh perasaan yang lain. Ia segera menghabiskan rokoknya, beranjak masuk ke rumah. Dan sambil mengusap matanya yang merah karena terkena kepulan asap, pria itu menyimpan harap bila esok hari ia masih bisa beruntung untuk melihat anak-anak itu bersama lagi.

***

Jika ada yang membaca tulisan ini sampai selesai, maka selanjutnya saya mau merekomendasikan sebuah lagu yang berjudul Youth milik Daughter. Lagu ini baru saya temukan 3 hari yang lalu, setelah sebelumnya lebih dulu melihat video penampilan live mereka membawakan lagu Smother yang diunggah salah satu official account di LINE. Dan kemudian, jadilah saya mengulang-ulang dua lagu tersebut dalam beberapa hari belakangan ini. Hahaha.

We are the reckless,
We are the wild youth
Chasing visions of our futures
One day we’ll reveal the truth
That one will die before he gets there.

Bekas Yang Muncul dan Menghilang di Teras Rumah

Mungkin Aku Sedang Rindu Saja

Sudah seminggu sejak terakhir kali aku melihatnya. Waktu itu, sepulangku dari kampus, dia sudah ada di depan pintu rumah. Dia lalu menyapaku dengan suaranya yang mirip suara bayi. Aku tidak menanggapinya karena sudah kelelahan dan dalam mood yang buruk. Aku ingin segera beristirahat. Aku hanya meliriknya dan langsung berjalan masuk ke rumah.

Seperti biasa, wajahnya yang polos membuatku ingin mengasihaninya. Apalagi, saat itu dia memang terlihat kesusahan berjalan. Salah satu kakinya tidak bisa menopang dengan baik. Aku tidak tahu apa sebabnya. Aku juga tidak bertanya tentang itu. Mungkin dia mengalami kecelakaan karena berlari-lari di jalan dan menyeberang sembarangan. Atau, bisa juga karena dia habis terlibat perkelahian. Aku pernah melihatnya berkelahi, tidak hanya sekali ataupun dua kali.

Sungguh, kelakuannya yang banyak tingkah itu memang beberapa kali membuatku repot. Aku tahu kalau dia masih muda, tapi bukan berarti dia bisa seenaknya sendiri. Kamarku sering berantakan dibuatnya, padahal aku sudah berkali-kali memarahinya. Aku juga tak mau kasurku kotor karena tubuhnya yang kumal akibat bermain di luar. Oh, dia juga sering meminta makananku. Terkadang aku memberinya barang sedikit, aku lebih sering menolak permintaannya. Aku tak mau terlalu memanjakannya. Tuman.

Yah, walaupun begitu, ada beberapa hal yang aku suka dari dirinya. Salah satunya karena dia sangat mudah kupermainkan. Aku suka melihatnya sibuk sendiri dengan kantong plastik yang sudah kuikat menjadi bola kecil. Menggiringnya ke sana ke sini sampai akhirnya capek sendiri, dan kemudian tertidur di pangkuanku. Ah, gemas.

Tetapi, sekarang aku sudah tak lagi melihat segala tingkah lakunya itu. Dia sudah pergi entah kemana. Aku tak tahu kabarnya. Dan sejujurnya, aku juga tak tahu namanya. Selama ini, aku memanggilnya dengan sebutan yang biasa orang-orang tujukan padanya:

“Pus”

Ya, aku sedang membicarakan seekor kucing.

Semoga dia sudah menemukan teman bermain yang lebih mengasyikan daripada aku. Semoga dia menemukan seseorang yang tidak keberatan untuk berbagi banyak makanan dengannya. Dan semoga dia akan mampir ke rumah ini lagi.

Mungkin Aku Sedang Rindu Saja